Film Dear You: Dilema Bahasa Teochew vs Mandarin di Singapura
Kristen Chng, seorang warga Singapura, baru-baru ini menonton film indie Tiongkok berjudul Dear You bersama ayahnya di Suzhou. Film ini mengingatkannya pada perjalanan sulit sang kakek yang meninggalkan desa leluhurnya di provinsi Guangdong dengan sangat sedikit harta. Menurutnya, tidak ada satu pun penonton yang bisa menahan air mata saat menonton kisah seorang pria yang berusaha mengungkap masa lalu keluarganya melalui surat-surat pengiriman uang yang dikirim dari Thailand.
“Kami juga bisa merasakan sentimen gaginang, istilah Teochew yang berarti ‘orang-orang kita sendiri’. Ketika seseorang mengalami kemiskinan, orang-orang terdekat dan teman-teman akan siap membantu,” ujarnya. Film yang meraih sukses besar ini direncanakan akan tayang di bioskop-bioskop Singapura pada hari Kamis, dan telah menarik perhatian luar biasa dari diaspora Tionghoa di negara kota tersebut. Dear You telah mengumpulkan lebih dari 1,6 miliar yuan (sekitar 236 juta dolar AS) di Tiongkok sejak dirilis pada 30 April lalu.
Namun, laporan bahwa versi dubbing Mandarin akan diputar di Singapura, bukan versi aslinya yang berbahasa Teochew, memicu kekhawatiran akan hilangnya keaslian dan warisan budaya. Banyak yang berpendapat bahwa memilih untuk menayangkan versi Mandarin dapat mengurangi makna yang terkandung dalam cerita, terutama bagi mereka yang memiliki latar belakang budaya Teochew. Dalam konteks Singapura, di mana terdapat keragaman etnis dan budaya, keputusan ini menjadi perbincangan hangat di antara komunitas Tionghoa.
Perdebatan ini mencerminkan ketegangan antara modernitas dan pelestarian budaya. Bagi banyak orang, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sarana untuk menjaga identitas dan sejarah. Di tengah tuntutan globalisasi, penting bagi masyarakat untuk tetap menghargai dan melestarikan warisan budaya mereka, termasuk bahasa daerah yang sering kali terpinggirkan.
Dengan semakin banyaknya film dan karya seni yang dihasilkan di berbagai bahasa, tantangan untuk mempertahankan keaslian sembari menarik penonton yang lebih luas menjadi semakin nyata. Dear You, dengan kisah yang menyentuh hati dan relevan, menjadi contoh bagaimana seni dapat menghubungkan generasi dan budaya, tetapi juga menghadapi dilema dalam penyampaian yang tepat.